Showing posts with label Poetry. Show all posts
Showing posts with label Poetry. Show all posts

Saturday, 28 November 2009

Siapa Tahu Rasammu

Siapa tahu rasammu
rasa nanas_selai nanas busuk
Yang merasuk masuk
ke rusuk
rusuk
roti bau
busuk

2 Juli 2007

Obrolan Seputar Hasrat

Hasratku tak terbalas
Hasrat apa?
Kau gantungkan pada siapa?

Tak lihatkah sepotong hasrat di piring datar?
Ada sendok dan garpu pula
Wouw aroma hasrat menggiurkan
Tapi lidahmu linglung
Linglung...
tak tahu rasa hasrat
Malang benar nasib hasrat
Rasanya jadi hambar

2 April 2007
Jogokaryan

Thursday, 12 November 2009

Doa Dengan Seikat Bunga

Kebekuan malam itu terpecah oleh nyanyian malaikat yang merdu. Liriknya mengurai harapan tentang kesembuhan yang sempurna dihiasi iring-iringan kunang-kunang dengan sayap menyerupai anak Magainin.
Kepakkan sayapmu dan bawalah terbang separuh jiwaku ke tempat keabadian. Biar kucium aroma surga dari tempatku berdiri kini.
Nyanyikanlah lagi di hari yang sempurna. Angkatlah di hari yang mulia#

Demikianlah untaian doa yang dibawakan seorang perempuan berbalut Lili itu, dari sudut kota Lama.

Kupersembahkan untuk kakekku tersayang*yang meniupkan harapan dan cinta dalam tiap nafasku

Friday, 3 July 2009

Demi Merah

aku lelah
pada langkah
pada diam
imajiku berhenti
diganti lengking
pada telinga
pada wajah
rebah
yang kuingin
pada mata
pada kata


--> Puisi ini dibuat sekitar pertengahan 2008 oleh sahabat saya yang menyebut dirinya "angkuh" ketika kita sedang cukup akrab. Tidak sampai 5 menit puisi itu dibuat di depan saya. Dan dia memutuskan untuk mem-posting di multiply saya.

Hew... baru-baru ini, saya baru paham dan merasa tersindir dengan puisi itu.
Entahlah... yang pasti akhirnya saya tau bahwa dulu, dia cukup lama menahan lelah untuk menunggu. Lelah pada langkah yang makin tak jelas harus ke mana dan bagaimana. Hingga imajinya terhenti diganti lengking hingga ia rebah. Tersungkur dan menyerah! Terima kasih sudah menyerah.

Thursday, 2 July 2009

Pulang Cinta

Bibir merah pulang tangan hujan

Disambut rintik-rintik bunda

Jalan basah aroma hujan

Disapu kaki-kaki jalan

Cinta mengayuh asmara bunda

Saturday, 8 November 2008

Pria Panas Rokok

Aku benci kau

diam.

Tetap duduk di lantai

dekat dinding.

Sambil terus

merokok dingin

Tak acuh

Tak menatapku.

Indehoi dengan asap

Yang senaknya terbang hilang.

Kenapa tak kau

sapa api

yang menjadikanmu

pria panas

rokok.